//
you're reading...
Uncategorized

Sepercik Kenangan Lewat Wangi

Sophia masih memandang secangkir latte dihadapannya yang mulai mendingin. Busa indah berbentuk hati di cangkir itu sudah tidak berbentuk lagi. Ia sudah mengaduk dan menghancurkan membentuk pusaran berwarna coklat muda. Menunggu memang bukan hal yang menyenangkan. Itu pasti. Terlebih jika yang ditunggu adalah orang yang seharusnya tidak boleh terlambat. Hari ini hari ulang tahunnya, tapi dimana Basti yang seharusnya sudah datang lebih awal dari ia? Basti memang selalu seperti itu. Tidak pernah bisa diandalkan dalam saat-saat penting. Sepertinya planet dimana ia dan Basti hidup memiliki perputaran yang berlawanan. Basti dengan kehidupan rutinitas kantornya yang sangat konvensional dan Sophia yang sangat bergejolak dengan dunia seninya. Walaupun ia tak dapat menampik bahwa Basti sangat menyayanginya. Basti itu figur ayah yang akan sangat ideal. Charming, mapan, gak neko-neko, ngemong, dan sebagai-sebagainya.

Tik tok tik tok. Rasanya detak jam yang ada di ruangan itu begitu keras berdetak di kepala Sophia. Tiap detak yang seakan menemaninya membunuh sepi. Matanya hanya tertuju pada layar handphonenya. Seakan menunggu sebuah panggilan atau pesan singkat masuk untuk menjelaskan mengapa keadaan buruk ini terjadi. Café itu tidak ramai. Hanya ada seorang pria berpakaian kemeja hitam polos yang duduk didepannya membaca buku. Novel sepertinya. Sophie tidak dapat melihat wajah pria itu karena ia duduk membelakanginya. Namun dari belakang, pria ini tampaknya cukup tampan pikirnya sambil tersenyum kecil. Dan ia wangi! Ya, dari tadi ternyata hidungnya mencoba mengakrabi bau pria ini. Baunya seperti bau coklat. Sepertinya ia memakai parfume beraroma coklat yang akhir-akhir ini cukup sering digembar-gemborkan produsen parfume terkemuka.

Tanpa sadar ia terus berusaha mengendus bau ini.  Walaupun ia sudah sering melihat iklan produk itu, tapi ia belum pernah secara langsung mencium aroma parfume ini. Ia berusaha menebak-nebak kepribadian pria ini. Pasti ia tipe introvert yang sering menyendiri tanpa kehilangan sifat hangatnya. Mungkin dia ini mungkin dia itu. Ya, mungkin.

Pintu café tiba-tiba terbuka.

“ Sayang, maaf. Klien tiba-tiba meminta pertemuan besok dipercepat hari ini. Happy birthday dear!” kata Basti sambil memberi seikat mawar yang sudah hampir layu. Basti tidak akan mampu memilih bunga yang segar terutama dengan keadaan seperti saat ini. Walaupun raganya berada di sini dapat dipastikan otaknya mungkin masih tertinggal dikantornya sana.

“ Tidak apa-apa. Tapi aku sepertinya sudah tidak ingin berulang tahun saat ini. Basti, aku rasa kamu capek. Sebaiknya kamu pulang. Aku naik busway saja. Tidak perlu merasa bersalah.” Kata Sophie datar.

“ Come on dear, I’m really sorry. Jangan dibesar-besarkan deh! Aku seharian di kantor udah banyak masalah. Aku kesini bukan untuk nambah-nambahin masalah! Aku mau relaxing my mind sekarang! “

Terdengar suara kursi terseret. Sepertinya ia beranjak. Mungkin merasa terganggu dengan nada suara Basti yang mulai meninggi. Sophie masi tertunduk di kursinya. Basti duduk tepat di depannya, ia tetap tidak akan melihat si kemeja hitam karena terhalang Basti. Selain itu ia juga sedang menahan air matanya agar tidak tumpah.

Pria itu lewat disebelahnya. Sophia hanya sempat melihat tas selempang kecil yang digunakannya. Dan bau itu kembali menghambur mengikuti sekelibat bayangan disebelahnya. Entah mengapa ia seperti terasa berbincang-bincang dengan pria itu lewat bau. Aneh sekali. Lewat bau coklat lembut itu mereka seperti sedang berbincang-bincang dengan ditemani hot chocolate. Ditambah vanilla dan gula cair. Detik yang seakan berubah menjadi jam-jam panjang yang hangat.

“ Sayang, do you hear me? “ suara Basti memecah semua imajinasinya.

“ Sudahlah, saya sedang tidak ingin berbicara denganmu! Saya tahu kamu capek, dan mungkin sekarang saya juga sedang capek menunggu seseorang sekitar 2 jam! Okey, terimakasih! “ katanya sambil meninggalkan Basti yang masih terduduk di hadapannya. Basti berusaha menangkap tangan Sophia.

“ Sof, okey aku salah tapi please be mature! Jangan keras kepala!”

“Iya, saya memang keras kepala. Mungkin itu nama tengah saya.” Tandas Sophia sambil berlalu dari hadapan Basti. Sophia berlalu dan mulai sesengukan. Pertengkaran lagi. Entah apa mereka mulai tidak sejalan. Dan selalu seperti ini. Basti hanya terdiam seakan perlu waktu berjam-jam untuk mencerna kata-kata Sophia. Kejar aku! Peluk aku dari belakang sambil mengucapkan kata maaf! Percuma, Basti tidak akan sepeka itu. Basti begitu kaku.

Air mata masih menetes satu persatu menemani perjalanan di dalam busway yang cukup dingin itu. Bus berhenti dari shelter satu ke shelter selanjutnya. Otak Sophia masih dipenuhi dengan Basti dan masa depan hubungan mereka. Satu persatu orang keluar dan masuk bus itu. Semua pasti punya masalahnya masing-masing. Mungkin saat ini pikiran semua orang di dalam bus ini sedang tidak di dalam bus. Mungkin hanya raga mereka yang ada di dalam bus ini. Tubuh mereka seperti diset auto pilot. Dan abracadabra! Semua berjalan lancar. Bisa berjalan sendiri, berbicara, dan berbgai kegiatan lainnya.

“ Maybe you need this,” kata seseorang disebelah Sophia sambil menawarkan sapu tangannya

“ Maaf, saya tidak punya tissue, go green activities, “ katanya sambil tersenyum.

“ Terimakasih, saya terlihat sangat berantakan ya?”

“ Ada waktunya kita sangat berantakan, ada waktunya kita sangat rapi, itu bukan menjadi masalah yang penting, yang penting bagaimana mengubah keadaan berantakan menjadi rapi kembali,”

Bus berhenti di shelter selanjutnya.

“ Okay, saya harus turun. Semoga bisa segera menjadi rapi,” katanya sambil tersenyum hangat. Dia punya lesung pipi yang begitu menawan ternyata.

“ Tapi, sa-saputangan anda? “ kata Sophia terbata.

“ Keep it for you and Happy Birthday,” katanya sambil berlalu.

Dan yang tertinggal hanya bau coklat yang kembali terhambur mengikuti sekelibat bayangan yang berlalu. Ya bau coklat itu. Yang sangat dikenalnya. Dan sekarang ditambah saputangannya. Sophia tidak tahu siapa nama pria itu, ia tidak pernah bertemu lagi dengannya, tapi setiap ia mencium bau parfume itu pasti memorinya terhambur pada pria berkemeja hitam dan sapu tangannya. Biarlah semua menjadi memori indah yang hanya terkenang lewat sebatas parfume beraroma coklat.

Yogya, July 2nd, 2011 – 1.29 am

Setelah sekian lama tidak membuat cerpen.

All characters in this story are fiction.

>> Pernah kah anda merasa bahwa memori ternyata tidak hanya sebatas ingatan. Kenangan kita tidak hanya tersimpan dalam bentuk potongan-potongan cerita yang mungkin berkelebat dalam ingatan ketika kita merasa teringat sesuatu.

Pernahkah anda merasa teringat sesuatu atau seseorang lewat bau? Ketika wangi itu hadir maka ingatan anda akan menghambur seperti bau yang semerbak. Parfum memang gambaran mudahnya bagaimana bau bisa menginvasi kenangan kita. Bau membantu kita mengenali sesuatu. Bau membantu kita untuk mengingat bagian tertentu dalam hidup kita. Dan hal itu seringkali sangat sentimentil sekali.

Dan saya juga sering mengalaminya. Honestly, sometimes it really fun but sometimes it kick you to dying area. Argh, hanya karena bau.

About neyevas

can't explain anything.. just an ordinary girl in extraordinary life.. just want to enjoy my life and give something to other peeps...

Discussion

2 Responses to “Sepercik Kenangan Lewat Wangi”

  1. hippocampus. simple science, that’s all.

    cheers.
    ~scaramouchemard

    Posted by mevancfc | 8 July 2011, 3:56 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.